Kamis, 07 November 2019

Epidemiologi dental (Penambalan ART)


BAB 1
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Kesehatan gigi menjadi masalah nasional. Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, sebab kesehatan gigi dan mulut akan mempengaruhi kesehatan tubuh keseluruhan. Kebersihan mulut yang tidak diperhatikan, akan menimbulkan masalah salah satunya kerusakan pada gigi seperti karies atau gigi berlubang.
Masalah kesehatan gigi dan mulut merupakan masalah yang rentan dihadapi oleh kelompok anak usia Sekolah Dasar (SD). Struktur gigi pada masa anak-anak terutama usia SD, termasuk dalam jenis gigi bercampur yaitu gigi susu dan gigi permanen yang rentan mengalami karies gigi (Rahmawati, 2011). Karies merupakan kerusakan yang terbatas pada jaringan gigi mulai dari email gigi hingga menjalar ke dentin atau tulang gigi (Kusumawardani, 2011).
Pendekatan baru untuk pengendalian karies disebut Atraumatic Restorative Treatment (ART). ART merupakan salah satu metode konservasi gigi menggunakan alat yang sederhana yaitu hanya menggunakan instrumen tangan/instrumen genggam, yang mudah dibawa-bawa, tanpa menggunakan bor, tidak memerlukan unit gigi (dental unit dan dental chair), dan tidak memerlukan jaringan pipa air maupun jaringan listrik khusus. Metode yang tidak menyakitkan ini memudahkan pelaksanaan deteksi dini dan perawatan dini karies. Sesuai pedoman World Health Organization (WHO) pelaksanaan tumpatan atau restorasi menggunakan adhesive dental materials yaitu Glass lonomer Cement (GIC).
Glass lonomer Cement merupakan bahan tumpat yang mengandung fluor, dapat melepaskan ion fluor dalam jangka panjang sehingga berfungsi sebagai reservoir fluor, bersifat rechargeable, biocompatible dengan jaringan gigi, berikatan dengan dentin dan email secara kimiawi melalui mekanisme pertukaran ion.
Perkembangan metode ART sangat menunjang konsep pengendalian karies melalui early detection, maximal prevention, minimal invasive and minimal cavity preparation. Konsep dasar ART adalah preventif sekaligus sebagai kuratif, sehingga kasus lanjut, maupun kehilangan gigi prematur dapat dicegah.
Berbagai studi melaporkan bahwa penggunaan QIC-ART menunjukkan efektifitas dan efisiensi yang bermakna dalam upaya pengendalian karies pada masyarakat. Di Indonesia telah dilakukan upaya pengendalian karies yang terintegrasi dengan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) pada anak usia sekolah dasar (SD). Selain itu juga Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa (UKGMD) dan integrasi dengan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Namun ternyata rerata DMFT cenderung meningkat, tahun 1970 DMF-T = 0,70, tahun 1980 DMFT=2,30, tahun 1990 DMF-T = 2,70, dan tahun 2007 DMFT = 4,8. Demikian pula prevalensi penyakit karies belum terlihat menuju perbaikan, masih berkisar 70%.4.
Artikel ini merupakan kajian altematif upaya pengendalian karies yang efektif dan efisien dengan ART-GIG, yang pernah dilakukan di berbagai Negara, sebagai masukan dalam perencanaan dan pengembangan program pengendalian karies dan peningkatan status kesehatan gigi..
Kurangnya pemahaman masyarakat bahwa pencegahan karies dapat dilakukan sejak dini mempengaruhi tingginya insidensi karies pada gigi anak. Dengan melakukan diet makanan yang mengandung kadar gula yang tinggi dan melakukan pembersihan plak gigi dengan teratur dapat menekan angka resiko karies pada anak, sehingga kualitas hidup anak menjadi lebih tinggi (Rantelino, 2014).
Menurut data Riset Kesehatan Dasar (2013), sebanyak 25,9% masyarakat Indonesia mengalami masalah gigi diantaranya adalah anak usia ≤ 12 tahun yang proporsi bermasalah terhadap kesehatan gigi dan mulut sebesar 24,8%. Data menunjukkan indeks DMF-T mencapai 4,6 mengindikasikan 460 kerusakan gigi pada 100 orang. Sedangkan Jawa Barat memiliki angka DMF-T 4,1 artinya rata-rata pada setiap orang terdapat 4 atau 5 gigi yang mengalami kelainan berupa gigi berlubang, gigi sudah ditambal, dan gigi dicabut akibat karies.
Berdasarkan Provinsi pada tahun 2013 yang mempunyai masalah gigi dan mulut cukup tinggi (>35%) adalah Provinsi Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Tengah dengan masing-masing EDM 10,3%, 8% dan 8% dan 6,4%. Bila dibandingkan tahun 2007 dan 2013 peningkatan masalah gigi dan mulut tertinggi adalah Provinsi Sulawesi Selatan (10,9%), Di Yogyakarta (8,5%) dan jawa Timur (8,3%). Sedangkan Provinsi Jambi, Riau, Bengkulu mengalami penurunan masalah gigi dan mulut masing-masing 8,3%, 6,6% dan 6,3%.
Pemeriksaan ulang yang dilakukan pada tanggal 25 November 2015 di UKGS SDN 1 Tobaku , ditemukan 14 siswa kelas 6 yang mengalami penambahan karies. Penambalan karies pada 2 gigi tetap yang sebelumnya bebas dari karies (free karies). Data dari buku perawatan anak tersebut yang terdapat di UKGS, selama kelas 1 sampai kelas 5 tidak ditemukan karies pada gigi molar tetapnya, seharusnya pelayanan asuhan yang diberikan secara berkesinambungan dapat mempertahankan bahkan mencegah terjadinya karies baru, mengingat anak tersebut akan melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya yang diharapkan dapat meningkatkan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulutnya.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk mencari factor penyebab terjadinya karies pada anak dan membuat suatu laporan kasus mengenai “Asuhan keperawatan gigi dan mulut  usia 6 dengan kasus gigi 36 KME di wilayah kerja puskemas Katoi”.
B.     Rumusan masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas yang menjadi rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah pengetahuan tentang penambalan Atraumatic Restorative Treatment ART gigi dengan kasus karies mencapai email (KME)  pada anak usia 6  tahun di wilayah kerja Puskemas Katoi?
C.     Tujuan
Untuk melihat pengetahuan tentang penambalan Atraumatic Restorative Treatment ART gigi dengan kasus karies mencapai email (KME)  pada anak usia 6  tahun di wilayah kerja Puskemas Katoi













BAB II
GAMBARAN UMUM PUSKESMAS

A.    GAMBARAN UMUM
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah unit pelaksana teknik Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan satu atau sebagian wilayah kecamatan. Dan Puskemas sebagai unit organisasi fungsional dibidang kesehatan atau lembaga milik negara berperan aktif sebagai ujung tombak terdepan dalam melaksanakan pembangunan dalam bidang kesehatan, juga membina peran serta masyarakat dan pelayanan kesehatan dasar secara menyeluruh dan terpadu. Dalam proses pencapaian tujuan yang diinginkan puskesmas harus melaksanakan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, kontrol dan penilaian (evaluasi) dengan sebaik-baiknya, dalam menjalankan fungsinya puskesmas telah dilengkapi dengan sistem menejemen seperti, lokakarya mini, SP2TP, monitoring bulanan, laporan bulanan, laporan triwulan, laporan tahunan dan hal-hal lain yang menunjang pelaksanaannya.
B.     LETAK GEOGRAFIS PUSKESMAS
Terletak di kabupaten kolaka utara desa katoi







BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A.    ATRAUMATIC RESTORATIVE TREATMENT
Atraumatic Restirative Treatment (ART) adalah suatu metode atau prosedur penumpatan di bidang konservasi gigi dengan cara membuang jaringan karies gigi hanya dengan instrument genggam, selanjutnya membersihkan dan metumpat dengan bahan tumpat yang bersifat adhesive. Saat ini bahan yang diguna-kan untuk restorasi adalah GIG. Peralatan untuk ART sangat sederhana, tidak memerlukan instalasi air dan instalasi listrik khusus, baik dental chair, dan dental unit. Juga tidak memerlukan bor. Konsep ART adalah meminimalkan invasi dan mengurangi trauma pada gigi. Dapat dikatakan tidak menimbulkan trauma, baik secara fisik yang biasanya oleh getaran bor, maupun trauma secara psikis yang biasanya oleh rasa takut melihat peralatan yang tersedia dan bunyi bor. Cara ini dengan demikian dapat mengurangi rasa takut pada anak-anak. Peralatan yang digunakan dapat dijinjing dan dibawa-bawa, sehingga dapat digunakan untuk mengunjungi penderita dengan disabilitas mobilitas.
Instrumen ART ini terdiri dari pinset, sonde, hatchet, spoon excavator (small, medium atau large), applier/carver, glass slab atau paper mixing pad, dan spatula. Untuk penerangan wilayah kerja dapat menggunakan cahaya alami atau lampu biasa saja. Peralatan yang sederhana ini, dapat dimodifikasi sesuai keadaan setempat. Pelaksanaan tumpatan dilaksanakan sesuai pedoman WHO yaitu hanya menggunakan "hand instruments", posisi pasien berbaring pada "bed chair knock down and removable " dengan metode ART memiliki beberapa keuntungan, antara lain dapat menjangkau daerah perifer atau daerah dengan sarana listrik maupun sarana air terbatas, biaya instrumen yang diperlukan relatif murah dibanding dengan cara konvensional, instrumen dapat dijinjing dan mudah dibawa kemana-mana. Pada hari kesehatan sedunia tanggal 4 April 1994, oleh WHO telah dicanangkan penggunaan metode ART dan bahan tumpat GIC sebagai salah satu alternatif dalam upaya pengendalian masalah karies pada masyarakat.

B.     GLASS LONOMER CEMENT (GIC)
GIC merupakan salah satu jenis bahan tumpat yang dianjurkan oleh WHO untuk penumpatan dengan metode ART. Bahan tumpat GIC tersedia dalam bentuk powder dan liquid di dalam botol atau di dalam kapsul. Powder terdiri dari bahan gelas dan berbagai macam mineral. Mineral yang sangat penting adalah silicon oxide, aluminium oxide dan fluoride oxide. Liquid terdiri dari polyacrylic acid. GIC melekat pada jaringan gigi secara kimia melalui pertukaran ion karboksilat yang berasal dari bahan tumpat dengan ion phosphat jaringan gigi. Adhesi antara GIC dan jaringan gigi pada email gigi lebih kuat dari pada adhesi GIC dengan dentin. Hal ini disebabkan karena email lebih banyak mengandung phosphat dibanding dentin Bahan tumpat GIC memiliki beberapa keuntungan yaitu melekat secara fisika kimia dengan jaringan gigi, mengandung fluor, melepaskan fluor, tidak mengiritasi jaringan mulut dan gingival, bersifat bakteriostatik, dan dapat berfungsi sebagai reservoir fluor selama tumpatan berada di mulut dan dalam keadaan baik. Adanya fluor yang larut dalam saliva dan adanya proses sirkulasi saliva, fluor akan terdapat kontinu di dalam mulut. Semua produk GIC melepaskan fluor, namun jumlahnya berbeda-beda bergantung pada produsen yang memproduksi bahan GIC tersebut.


Pelaksanaan tumpatan tidak memerlukan dental chair, dental unit, tidak memerlukan bor, dan tidak memerlukan instalasi listrik maupun instalasi air khusus, yang biasanya memerlukan biaya mahal. Adanya daerah dengan keterbatasan sarana listrik dan air yang bervariasi, dengan demikian metode ini disarankan untuk dilakukan di wilayah dengan sarana dan prasarana terbatas, daerah terpencil dan daerah sulit dijangkau. Juga pada anak-anak yang biasanya takut melihat peralatan kedokteran gigi. Peralatan yang digunakan dapat dijinjing dan dibawa-bawa, sehingga dapat digunakan untuk mengunjungi penderita dengan disabilitas mobilitas antara lain kelompok usia lanjut (Panti Wreda).
Bahan tumpat GIC berfungsi sebagai preventif sekaligus kuratif melalui pelepasan Fluor yang memperkuat email. Selain itu juga bersifat rechargeable terhadap adanya Fluor di dalam saliva yang berasal dari pasta gigi, makanan, minuman maupun sumber lainnya. Untuk itu perlu dibuat model penyuluhan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut tepat guna, yang dilaksanakan secara terus menerus, dan berkesinambungan.
Tidak ada perbedaan yang bermakna Success rate tumpatan setelah tiga tahun antara dokter gigi dan perawat gigi. Sebagai alternatif peningkatan upaya preventif dapat melalui peningkatan pemberdayaan perawat gigi. Dalam hal ini, pelaksanaan tumpatan dengan metode ART-GIC meskipun sederhana, namun tetap memerlukan kehati-hatian untuk mencapai hasil yang berkualitas. Untuk itu perlu dilakukan pendidikan atau pelatihan tambahan yang berkesinambungan bagi tenaga pelaksana. Tumpatan ART-GIC cost efektif, dengan demikian upaya preventif dan kuratif tetap dapat dilaksanakan untuk daerah dengan alokasi pendanaan terbatas dan prevalensi karies tinggi.
Indikasi dan penilaian/skor tumpatan ART-GIC
Penentuan indikasi dan evaluasi ART menggunakan pedoman WHO yaitu Guidelines for protocols for Clinical Studies of the Atraumatic Restorative Treatment tehnique and materials adalah sbb:
Kriteria inklusi adalah :
1.      Karies pada satu permukaan
2.      Karies email  
3.      Karies telah rnengenai dentin namun belum pernah sakit dan kavitas dapat dijangkau dengan instrumen genggam.
Kriteria eksklusi adalah:
1. Karies lanjut dan gigi telah mengalami abses atau fistula
2. Karies telah mengenai pulpa
 3. Pulpitis khronis
 4. Gigi pernah sakit dalam periode waktu yang lama
5. Kavitas tidak dapat dijangkau dengan instrumen tangan
Skor penilaian keberhasilan Tumpatan ART
0 = Tumpatan ada dan utuh/baik (present, good).
1 = Tumpatan ada dan sedikit cacat pada perbatasan dan atau permukaan aus dalamnya kurang dari 0,5 mm diukur dengan bola diujung WHO probe, tidak perlu perbaikan
2 = Tumpatan ada dan cacat pada perbatasan dan atau permukaan dalamnya antara 0,5 - 1,0 mm, perlu perbaikanj.
3 = Tumpatan ada dan cacat pada perbatasan dan atau permukaan aus, dalamnya lebih dari 1,0 mm, perlu perbaikan
4 = Tumpatan tidak ada / tumpatan (hampir) sama sekali hilang perlu tumpatan baru.
5 = Tumpatan tidak ada, karena alasan lain, karena pada gigi telah diadakan perawatan lain.
6 = Gigi tidak dijumpai lagi karena alasan apapun. (tooth not present whatever reason).
9        = Tak dapat didiagnosis
Prinsip Umum Preparasi kavitas
1.      Pengambilan jaringan terinfeksi saja
2.      Perluasan kavitas disesuaikan dng perkembangan lesi dr DEJ
3.      Extention for prevention tdk perlu 
4.      Karies kronis jaringan terinfeksi tdk ada
5.      Dentin sklerotik selama tdk mengganggu estetika ditinggalkan
6.      Pengambilan jaringan karies dengan instrumen genggam (ART)
Keuntungan preparasi minimal
1.      Sisa jaringan yg ditinggalkan lebih kuat
2.      Cedera thd jar pulpa minimal 
3.      Pengembalian bentuk anatomi gigi lebih mudah
4.       Pekerjaan lbh cepat, mudah dan murah

Prinsip dasar Saat ini, bahan ART
1.      menggunakan glassionomer sebagai restorative material.
2.      Melakukan tambalan menggunakan bahan yang melekat dengan gigi
3.      Menghilangkan jaringan karies hanya menggunakan hand instruments
Indikasi ART
Pada dasarnya ART dapat diaplikasikan pada :
·         Kavitas yang melibatkan dentin
·         Kavitas yang bisa dibersihkan dengan hand instruments
Kontraindikasi ART
1.      Karies sulit dijangkau hand instruments misal di proximal
2.      Kavitas karies sulit dibersihkan dengan hand instruments
3.      Gigi sakit dalam jangka waktu lama dan ada kemungkinan inflamasi pulpa kronis
4.      Karies yang melibatkan pulpa
5.      Adanya pembengkakan (abses) atau fistula yang dekat dengan gigi yang karies
C.     PENGERTIAN KARIES
Menurut Kusumawardani (2011), karies adalah kerusakan yang terbatas pada jaringan gigi mulai dari email gigi hingga menjalar ke dentin (tulang gigi). Struktur email sangat menentukan proses terjadinya karies. Permukaan email luar lebih tahan terhadap karies dibanding lapisan bawahnya, karena lebih padat dan lebih keras.
Sedangkan menurut Kidd dan Bechal (2012), karies merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi, yaitu email, dentin dan sementum, yang disebabkan oleh aktivitas suatu jasad renik dalam suatu karbohidrat yang dapat diragikan. Tandanya adalah adanya demineralisasi jaringan keras gigi yang kemudian diikuti oleh kerusakan bahan organiknya. Akibatnya, terjadi invasi bakteri dan kematian pulpa serta penyebaran infeksinya ke jaringan periapeks yang dapat menyebabkan nyeri.
1.      Etiologi karies
Menurut Kidd dan Bechal (2012), faktor penyebab terjadinya karies antara lain:
a.       Faktor Host (Gigi)
Plak yang mengandung bakteri merupakan awal bagi terbentuknya karies. Oleh karena itu kawasan gigi yang memudahkan pelekatan plak sangat mungkin diserang karies. Dalam keadaan normal, gigi geligi selalu dibasahi oleh saliva. Karena kerentanan gigi terhadap karies banyak tergantung terhadap lingkungannya, maka peran saliva sangat besar sekali.
Saliva mampu meremineralisasikan karies yang masih dini karena banyak sekali mengandung ion kalsium dan fosfat. Kemampuan saliva dalam melakukan remineralisasi meningkat jika ada ion fluor. Selain mempengaruhi komposisi mikroorganisme di dalam plak, saliva juga mempengaruhi pH nya. Karena itu, jika aliran saliva berkurang atau menghilang, maka karies mungkin akan tidak terkendali.
b.      Faktor Agent (Plak)
Plak gigi merupakan lengketan yang berisi bakteri beserta produk-produknya, yang terbentuk pada semua permukaan gigi. Akumulasi bakteri ini tidak terjadi secara kebetulan melainkan terbentuk melalui serangkaian tahapan.
Jika email yang bersih terpapar di rongga mulut maka akan ditutupi oleh lapisan organik yang amorf yang disebut pelikel. Sifatnya sangat lengket dan mampu membantu melekatkan bakteri-bakteri tertentu pada permukaan gigi.
Streptococcus mutans dan laktobasilus merupakan kuman yang kariogenik karena mampu segera membuat asam dari karbohidrat yang dapat diragikan. Kuman-kuman tersebut dapat tumbuh subur dalam suasana asam dan dapat menempel pada permukaan gigi karena kemampuannya membuat polisakharida ekstra sel yang sangat lengket dari karbohidrat makanan. Akibatnya, bakteri-bakteri terbantu untuk melekat pada gigi serta saling melekat satu sama lain. Dan karena plak makin tebal maka hal ini akan menghambat fungsi saliva dalam menetralkan plak tersebut.
c.       Faktor Substrat Atau Diet
Dibutuhkan waktu minimum tertentu bagi plak dan karbohidrat yang menempel pada gigi untuk membentuk asam dan mampu mengakibatkan demineralisasi email. Karbohidrat ini menyediakan substrat untuk pembuatan asam bagi bakteri dan sintesa polisakharida ekstra sel.
Walaupun demikian, tidak semua karbohidrat sama derajat organiknya. Karbohidrat yang kompleks misalnya pati relatif tidak berbahaya karena tidak dicerna secara sempurna di dalam mulut, sedangkan karbohidrat dengan berat molekul yang rendah seperti gula akan segera meresap ke dalam plak dan dimetabolisme dengan cepat oleh bakteri.
Dengan demikian, makanan dan minuman yang mengandung gula akan menurunkan pH plak dengan cepat sampai pada level yang dapat menyebabkan demineralisasi email. Plak akan bersifat asam selama beberapa waktu. Untuk kembali ke pH normal sekitar 7, dibutuhkan waktu 30-60 menit. Oleh karena itu, konsumsi gula yang sering dan berulang-ulang akan tetap menahan pH plak di bawah normal dan menyebabkan demineralisasi email.
d.      Faktor Waktu
Adanya kemampuan saliva untuk mendepositkan kembali mineral selama berlangsungnya proses karies, menandakan bahwa proses karies tersebut terdiri atas periode perusakan dan perbaikan yang silih berganti. Oleh karena itu, bila saliva ada di dalam lingkungan gigi, maka karies tidak menghancurkan gigi dalam hitungan hari atau minggu, melainkan dalam bulan atau tahun. Dengan demikian sebenarnya terdapat kesempatan yang baik untuk menghentikan penyakit ini.
2.      Penggolongan Karies
Menurut Kidd dan Bechal (2012), jenis-jenis karies dilihat dari kedalamannya:
a.       Karies Superfisialis (karies mencapai email)
Karies yang baru mengenai email gigi saja, sedangkan bagian dentin belum terkena. Pada karies ini seringkali belum terasa sakit karena di dalam email tidak ada serabut-serabut syaraf sehingga seringkali orang tidak sadar bahwa giginya sudah berlubang.
b.      Karies Media (karies mencapai dentin)
Karies yang sudah mencapai dentin atau bagian pertengahan gigi dan pulpa, gigi biasanya terasa sakit atau ngilu apabila terkena rangsangan dingin, makanan asam atau manis.


c.       Karies Profunda (karies mencapai pulpa)
Karies yang telah mendekati atau telah mencapai pulpa sehingga terjadi peradangan pada pulpa. Biasanya terasa sakit saat makan dan sakit tiba-tiba tidak ada rangsangan. Pada tahap ini apabila tidak dirawat, maka gigi akan mati dan memerlukan perawatan yang lebih kompleks.
3.      Pencegahan karies
Menurut Martariwansyah (2009), mengingat karies memerlukan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk dapat menghancurkan gigi, secara teoritis ada tiga cara untuk mencegah karies, yaitu:
a.       Mengurangi makanan yang banyak mengandung karbohidrat
Yaitu dengan mengurangi frekuensi konsumsi gula dan membatasinya pada makanan. Menurut beberapa penelitian, cara ini dianggap sebagai teknik pencegahan yang paling efektif.
b.      Meningkatkan ketahanan gigi
Email dan dentin yang terbuka dapat dibuat lebih tahan terhadap karies dengan pengaplikasian fluor secara tepat. Cekungan dan parit-parit kecil yang terdapat pada permukaan gigi-gigi geraham adalah daerah rawan karies, sehingga secara mudah untuk melindunginya dengan cara melakukan penambalan (pada parit daratan tinggi gigi belakang).
c.       Menghilangkan plak bakteri
Secara teoritis, permukaan gigi yang bebas plak akan menjadi karies. Namun, penghilangan total plak secara teratur bukanlah pekerjaan yang mudah. Perlu teknik penyikatan yang benar dan rutin.
           

BAB IV
PENATALAKSANAAN
A.    Alat dan bahan untuk ART
1.      Excavator
2.      Mirror/ kaca mulut
3.      Pinset
4.      Dental hatchet
B.     Cara kerja dari ART
1.      Menghilangkan jaringan infeksius
Membersihkan karies dengan menggunakan ekskavasi dapat dengan mudah dilakukan apabila gigi dalam keadaan kering Menghilangkan karies lunak dari enamel dentine junction dapat menyebabkan email tidak tersokong dentin Email yang overhanging harus dihilangkan dan dapat dipatahkan dengan mudah menggunakan blade dental hatchet. Letakkan pada ujung email dan patahkan menjadi bagian-bagian kecil.
2.      Setelah membersihkan Kavita blok saliva menggunakan catton roll
3.      Pembersihan dilakukan untuk meningkatkan perlekatan kimia antara Glass-ionomer (GI) dengan struktur gigi dengan dua kemungkinan cara berikut menggunakan dentine conditioner atau tooth cleaner khusus atau cairan glass-ionomer Apabila ada oleskan cavity cleanser (misal: dentin conditioner) sebelum menambal kavitas
4.      Biasanya adalah 10% polyacrylic acid. Letakkan satu tetes di kertas GI atau slab. Celupkan kapas kecil kemudian bersihkan seluruh kavitas dan fisur di sebelahnya selama 10-15 detik. Cairan glass-ionomer dapat digunakan jika kandungan asamnya sama dengan condisioner Kemudian bersihkan segera kavitas dan fisure paling tidak dua kali menggunakan cotton pellets yang sudah dicelupkan dalam air bersih.
5.      Jika gigi sudah terkontaminasi darah atau saliva ulangi prosedur pencucian, pembersihan dan rekondisi kavitas.
6.      Ketika Kavita sudah kering kemudian mengaduk bahan tambalan GI dengan mengguankan agata spatle dan papper pet dan memperhatikan aturan  dari pabrik hasil akhir terlihat halus seperti permen karet dilakukan setelah kavitas kering dan terlindungi dari saliva
7.      Aplikasi pada kavitas
Setelah bahan tambalan seperti permen karet bahan tambalan kemudian di isi kedalam Kavita dari tepi kavitas edikit demi sedikit ,Waktu mulai dari mencampur sampai aplikasi dlm kavitas tdk boleh lebih dari satu menit.
8.      Jangan lakukan apapun selama periode pengerasan dan jaga kondisi gigi tetap kering
9.      Akhir tahapan restorasi
Setelah 1 atau 2 menit (tergantung kondisi cuaca) lakukan cek gigitan menggunakan articulation paper. Jika masih terlalu tinggi, kurangi tambalan menggunakan applier/carver, Terakhir olesi ujung jari menggunakan Vaseline
10.  Instruksi pasien tidak makan di daerah gigi yang sudah d tambal selama 30 menit
C.    EVALUASI ART
·         Karies sekunder setelah penumpatan ART tergolong rendah.
·         Kegagalan ART lebih banyak disebabkan krn kesalahan operator
·         Jika ada fraktur, atau lepas, perlakukan seperti aplikasi ART pada kasus baru.
·         Penyebab kegagalan : adukan tll kering, dipaksa masuk kavitas
Jika pecah, buang yg pecah, apa masih melekat dg baik, lalu aplikasi yg baru
D.    SASARAN TINDAKAN PENCEGAHAN
Tindakan preventif penambalan Atraumatic Restirative Treatment (ART) dilakukan pada murid SD kelas 1 yang berusia 6 tahun pada gigi molar 1 belum mengalami kerusakan.
E.     TEMPAT PENATALAKSANAAN
Dilakukan di sekolah-sekolah diwilayah kerja puskesmas KATOI yang sudah berjalan selama 1 tahun
F.     EVALUASI
Melakukan monitoring minimal 6 bulan sekali setelah kegiatan, melakukan tindak lanjut dari kegiatan tersebut.









BAB V
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Tumpatan dengan ART-GIC berfungsi sebagai preventif sekaligus kuratif, berpengaruh terhadap kesehatan gigi, menghambat terjadinya karies (D) baru, sekaligus menghambat peningkatan DMF-T/caries experience. Selain itu, meningkatnya gigi yang sudah ditumpat (F), Performance Treatment Index (PTI) jadi meningkat, sehingga dapat meningkatkan jangkauan upaya pelayanan kesehatan gigi. Disarankan untuk dilaksanakan di seluruh SD yang telah memiliki program UKS, dimulai terutama pada anak kelas satu/umur 6 tahun yang umumnya telah memiliki gigi molar permanen yaitu molar pertama pada rahang bawah kanan dan kiri.
Pelaksanaan tumpatan tidak memerlukan dental chair, dental unit, tidak memerlukan bor, dan tidak memerlukan instalasi listrik maupun instalasi air khusus, yang biasanya memerlukan biaya mahal. Adanya daerah dengan keterbatasan sarana listrik dan air yang bervariasi, dengan demikian metode ini disarankan untuk dilakukan di wilayah dengan sarana dan prasarana terbatas, daerah terpencil dan daerah sulit dijangkau. Juga pada anak-anak yang biasanya takut melihat peralatan kedokteran gigi. Peralatan yang digunakan dapat dijinjing dan dibawa-bawa, sehingga dapat digunakan untuk mengunjungi penderita dengan disabilitas mobilitas antara lain kelompok usia lanjut (Panti Wreda).
Bahan tumpat GIC berfungsi sebagai preventif sekaligus kuratif melalui pelepasan Fluor yang memperkuat email. Selain itu juga bersifat rechargeable terhadap adanya Fluor di dalam saliva yang berasal dari pasta gigi, makanan, minuman maupun sumber lainnya. Untuk itu perlu dibuat model penyuluhan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut tepat guna, yang dilaksanakan secara terus menerus, dan berkesinambungan.
Tidak ada perbedaan yang bermakna Success rate tumpatan setelah tiga tahun antara dokter gigi dan perawat gigi. Sebagai alternatif peningkatan upaya preventif dapat melalui peningkatan pemberdayaan perawat gigi. Dalam hal ini, pelaksanaan tumpatan dengan metode ART-GIC meskipun sederhana, namun tetap memerlukan kehati-hatian untuk mencapai hasil yang berkualitas. Untuk itu perlu dilakukan pendidikan atau pelatihan tambahan yang berkesinambungan bagi tenaga pelaksana.
Tumpatan ART-GIC cost efektif, dengan demikian upaya preventif dan kuratif tetap dapat dilaksanakan untuk daerah dengan alokasi pendanaan terbatas dan prevalensi karies tinggi.
B.     SARAN
1.      Bagi pemerintah diharapkan dapat mengoptimalkan  upaya pencegahan dan
penanggulangan masalah kesehatan gigi dan mulut yang terjadi pada anak-anak dan penyediaan alat-alat yang belum tersedia
2.      Bagi masyarakat diharapkan dapat menggunakan fasilitas Poli Gigi di Puskesmas sehingga dapat meningkatkan status kebersihan gigi dan mulut yang baik
3.      Pada anak-anak yang sedang mengalami masa peralihan gigi susu ke gigi tetap umur 7-12 tahun sebaiknya dilakukan pemeriksaan rutin 6 bulan sekali sebagai salah satu usaha untuk menemukan kasus penambalan ART secara dini
4.      Perlunya memberikan peyuluhan kepada orang tua tentang kesehatan gigi agar orang tua lebih emperhatikan waktu erupsi gigi permanen anak dan dapat mencegah terjadinya persistensi yang juga akan dapat mengurangi adanya kasus maloklusi.



DAFTAR PUSTAKA
Agtini, Magdarina Destri. Efektifitas Pencegahan Karies Dengan A Tra Uma Tic Restora Tive Trea Tment Dan Tumpatan Glass Ionomer Cement Dalam Pengendalian Karies Dibeberapa Negara. 2010. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI.
Phantumvanit P, Songpaisan Y. Atraumatic Restorative Treatment (ART) : a Three Years Community Field Trial in Thailand - Survival of One - Surface Restorative in Permanent Dentition. Journal of Public Health Dentistry, Vol 56, No. 3. Special Issue 1996. p.141-145.
Magdarina DA, Sutopo U, Sintawati. Laporan Akhir studi : Metode Pelayanan Kesehatan Gigi pada Murid Sekolah Dasar dalam Rangka Peningkatan Pemerataan Pelayanan. 1998. Magdarina DA. Pengaruh Tumpatan Glass lonomer Cement dengan Metode Atraumatic Restorative treatment terhadap Peningkatan Status Kesehatan Gigi. Disertasi.2002. Badan Litbangkes Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
Sundoro EH. Konsep Baru Perawatan Keries. Pada Seminar: Atraumatic Restorative Treatmant (ART) Terobosan Baru dalam Pemeliharaan Kesehatan Gigi, 29 Juli 2000. Badan Litbangkes. Depkes RI. Jakarta.




0 komentar:

Posting Komentar